Eri-Armuji Tidak Ada Lawan, Pengamat Sebut Memilih Kotak Kosong Sesat Pikir
jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pengamat Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) Andri Arianto menilai fenomena melawan kotak kosong di Pilkada Surabaya menimbulkan kecemasan di masyarakat.
Pasalnya, Eri Cahyadi-Armuji mendapatkan dukungan dari semua partai politik di Surabaya, yaitu sebanyak 18 partai. Dengan demikian, pasangan petahana itu melawan kotak kosong.
“Masyarakat panik dan cemas karena hanya ada satu paslon dalam Pilkada. Mereka khawatir, bagaimana jika kotak kosong yang menang? Selain itu, ada yang menganggap kondisi ini tidak demokratis," ujar Andri, Rabu (4/9).
Menurutnya, kecemasan masyarakat terkait fenomena Paslon tunggal, juga harus dilihat dari pengalaman Pilkada sebelum adanya Putusan Mahkamah Agung (MK) Nomor 60/PUU-XXII/2024 tentang Ambang Batas Pencalonan Kepala Daerah.
“Di mana terjadi kecenderungan hubungan koalisi partai politik dalam mengusung paslon memang dikondisikan untuk melawan kotak kosong,” katanya.
Namun, Andri kembali menegaskan bahwa sejak adanya Putusan MK Nomor 60/PUU-XXII/2024, persentase paslon tunggal justru menurun menjadi sekitar tujuh persen dari total penyelenggaraan Pilkada 2024.
“Jadi, Putusan MK kemarin juga sangat berdampak," ucap dia.
Andri mengatakan masyarakat tidak perlu berprasangka buruk terhadap fenomena ini karena hal itu adalah sesuatu yang umum.
Pandangan pengamat soal fenomena kotak kosong di Pilwali Surabaya
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News