Pakar Unair Sebut Gestur Berlebihan Tak Diperlukan dalam Debat Politik

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pakar Komunikasi Politik Unair Surabaya Dr. Suko Widodo menilai etika sangat penting dalam berdebat politik, termasuk debat capres-cawapres. Dengan begitu, masyarakat memahami gagasan yang disampaikan para calon pemimpin.
Selain tema yang jelas, lanjut dia, debat memerlukan cara berkomunikasi yang benar. Semua yang dibicarakan harus menjadi jelas dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti agar sebuah diskusi dapat berjalan.
"Jadi, peserta dan lawan bisa mengikuti alur berpikir sehingga nanti akan keluar argumentasi sanggahan atau usulan yang masuk akal terhadap ide itu," kata dosen ilmu komunikasi itu.
Selain itu, menurutnya, tujuan debat ialah mengadu pikiran, ide, serta gagasan. Maka dari itu, tema di dalam debat harus menjadi fokus dalam perdebatan.
Suko menganggap gestur-gestur berlebihan tidak diperlukan di dalam suatu debat.
"Komunikasi itu menyangkut rasa dengan tiga unsur penting berupa logika, etika, dan estetika sehingga gaya komunikasi itu menjadi penting bagi calon pemimpin," tuturnya.
Suko juga mengamini pendapat banyak orang bahwa penggunaan istilah itu merupakan sebuah strategi dalam debat. Namun, dia menilai cara itu tidak berada pada level yang tinggi.
"Strategi debat itu terdiri dari level 1 sampai 6, mestinya makin matang berpikirnya semakin bijak. Pengambilan kebijakan itu pada level 6, bukan teknis atau level 1. Itu baru menunjukkan kualitas orang," ujarnya.
Pakar Unair Suko Widodo pun menyoroti penggunaan istilah dalam debat politik, termasuk debat capres-cawapres.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News