alexa

Palestina

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 15 Mei 2021 – 05:55 WIB
 Palestina - JPNN.com Jatim
Foto/ilustrasi: arsip JPNN.com/Ricardo

jatim.jpnn.com - Pada sepuluh malam terakhir Ramadan ada tradisi bermalam di masjid-masjid di Indonesia. Orang-orang beriktikaf, melek pada sepertiga malam menunggu turunnya Lailatulkadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Pada rakaat terakhir Tarawih, orang-orang membaca kunut. Kali ini bukan kunut biasa yang dibaca, tapi kunut nazilah, doa spesial yang khusus dibaca ketika umat Islam menghadapi ancaman musuh atau musibah yang sangat serius.

Kali ini hampir semua masjid membaca kunut. Biasanya hanya masjid-masjid NU yang baca kunut. Sebagian masjid non-NU membaca kunut pada Tarawih sepuluh malam terakhir.

Namun, pada Ramadan kali ini semua seolah kompak melupakan khilafiah mengenai kunut. Semua masjid mengumandangkan kunut untuk mendoakan Palestina yang pada masa-masa akhir Ramadan mendapat gempuran dari Israel.

Entah siapa penasihat militer Israel yang mengusulkan penyerangan terhadap Palestina pada masa-masa akhir Ramadan ini. Dari sisi strategi militer mungkin saja serangan ini punya nilai penting, apalagi bersamaan dengan  momen hari besar Yahudi.

Bagi bangsa Yahudi Israel, penyerangan itu punya nilai strategis untuk mengukuhkan solidaritas nasional. Namun, sebagai public relations di dunia internasional, serangan itu adalah sebuah blunder.

Nasib bangsa Palestina yang beberapa tahun belakangan ini nyaris terlupakan, tiba-tiba saja muncul menjadi isu internasional kembali. Bangsa Palestina masih ada, dan mereka masih tetap bertarung untuk merebut-hak-haknya.

Solidaritas dunia Islam pun bangkit lagi. Negara-negara Islam mengecam serangan yang menewaskan ratusan orang itu.