Pembatik Sangat Berisiko Terkena Dermatitis Kontak, Pewarna Sintetis Jadi Sebabnya

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Dalam menghasilkan batik, perusahaan batik kerap menggunakan pewarna sintetis agar mempercepat laju produksi dan pewarna buatan juga dinilai murah.
Namun ternyata, penggunaan pewarna yang tidak alami itu, membuat pembatik rentan mengalami peyakit kulit, khususnya dermatitis kontak.
Dilansir dari Unair.ac.id, Dr.Damayanti,dr.,Sp.KK(K), menjelaskan pewarna sintetis menikatkan risiko paparan terhadap bahan alergen kulit.
"Kulit pembatik akan terpapar dengan bahan alergen ini setiap hari, terutama pada pembatik yang bekerja sebagai pencelup," jelasnya.
Saat terpapar bahan alergen ini, lanjut dr.Darmayanti, akan menghasilkan reaksi radang yang kemudian berpotensi untuk menimbulkan efek samping infeksi sekunder bila tidak segera ditangani.
Menurut dia, 97 persen dari 389 kasus dermatitis kontak terjadi pada para pekerja seperti petani, penata rambut, pekerja bangunan, serta pekerja tekstil termasuk pembatik.
"Di Yogyakarta, sebagai salah satu pusat batik, sebanyak 58,6 persen dari keseluruhan pembatik alami dermatitis kontak," terangnya.
Pencegahan
Penggunaan pewarna sintetis atau yang tidak alami membuat pembatik rentan mengalami peyakit kulit, khususnya dermatitis kontak.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News