Tim Pencari Fakta Aremania Ungkap Adanya Kejahatan HAM yang Dilakukan Aparat
jatim.jpnn.com, MALANG - Sekretaris Jenderal Federasi Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Andi Irfan menyoroti tindakan aparat kepolisian dan TNI dalam meredam massa saat Tragedi Kanjuruhan.
Menurutnya, tindakan para aparat tersebut sangat berlebihan dan tembakan gas air mata menjadi biang keladi meninggalnya ratusan suporter.
“Kami menemukan banyak keterangan bahwa ada perwira kepolisian di lapangan yang mengomando penembakan atau sekurang-kurangnya tidak melarang personel Brimob dan Sabhara melakukan tindakan kekerasan dengan menembakan gas air mata ke tribune langsung,”ucapnya.
Gas air mata tersebut ditembakkan secara signifikan. Dalam sekali tembakan, ada empat sampai lima peluru yang terlontar.
Penonton di tribune yang awalnya kondusif langsung kocar-kacir karena asap yang dihirup pedih dan membuat sesak.
“Dari sana, kami menyimpulkan itu sebagai tindakan pembunuhan, bukan kerusuhan. Ini bukan pembunuhan individual, tetapi pembunuhan massal dan sudah masuk unsur kejahatan HAM,” tuturnya.
Baca Juga:
Dia juga menyatakan ada sebuah struktur komando dan diyakini perwira yang memimpin tidak melakukan pencegahan.
Namun, juga ada kemungkinan besar perintah penembakan gas air mata ketika peristiwa saat berlangsung.
Dalam temuan fakta yang lain, ada perwira yang lebih tinggi, yakni Kapolres Malang kala itu AKBP Ferli Hidayat, yang saat itu duduk dibangku VIP dengan tamu yang lain.
Gas air mata dalam Tragedi Kanjuruhan ditembakkan secara signifikan. Dalam sekali tembakan, ada empat sampai lima peluru yang terlontar.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News