Membanggakan, Cerita Anak Disabilitas Surabaya Raih Juara Seni Internasional

"Kalau mau melukis jangan dipaksa, gambar saja yang mau digambar. Jadi, jangan buat itu sebagai pekerjaan, tetapi sebagai hobi," ujarnya.
Sang ibu, Beta Ami (47) merasa sangat bangga atas prestasi putrinya dan mampu membuktikan bahwa kondisinya tidak tak kalah dengan anak lainnya yang mampu berprestasi hingga tingkat internasional.
Beta menceritakan anaknya didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), saat kelas 3 SD diketahui ada disleksia. Berjalannya waktu, dokter menyebut ada autis ringan.
Dia mengaku sempat kebingungan untuk menggali potensi putrinya. Kemudian menemukan RAP Nginden dan mengikutsertakan Tata dalam pelatihan melukis setiap minggu dan bakatnya terus terasah.
"Tata itu tidak mau sekolah, kalau disuruh sekolah nangis saja maunya hanya mengambar. Lalu saya bawa ke Dinas Kebudayaan Kota Surabaya supaya bisa ikut kelas inklusi, tapi tidak bisa karena fisik anaknya normal. Akhirnya disarankan untuk ke RAP Nginden," jelas warga Pacar Keling itu.
Selain pelatihan melukis, Beta juga rajin mengikutsertakan putri keduanya dalam pelatihan public speaking, membatik dan modeling di RAP. Dia berharap Tata bisa bersaing dengan anak seusianya dan tidak diremehkan di lingkungan.
"Saya akan terus mendukung bakat putri saya di bidang seni, khususnya menggambar atau melukis. Kalau ke depan hobinya ini bisa menjadi mata pencahariannya ya saya akan mendukung karena secara akademik dia memang kesulitan. Jadi, jangan patah semangat terus berusaha karena setiap anak pasti punya kekurangan dan kelebihan," ucap dia.
Kepala Dinsos Surabaya Anna Fajriatin mengatakan pelatihan di RAP mendorong anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti kompetisi agar dapat meningkatkan kompetensi dan aktualisasi diri.
Anak disabilitas Surabaya raih juara dalam ajang seni tingkat internasional
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News