Cerita Ika Damajanti Berjuang Melawan Kanker Payudara

Ika memutuskan untuk melakukan kemoterapi, radioterapi, hingga operasi agar penyakit ganas tersebut tidak menyebar.
Proses pengobatan yang dijalaninya tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap Ika lantaran dirinya tidak boleh hamil sebab jika dipaksakan terlalu berisiko.
“Saat itu, saya ingin punya anak, tetapi dokter tidak menyarankan untuk hamil. Puji Tuhan, tujuh tahun setelahnya, saya hamil. Kini, anak saya berusia 15 tahun,” ucapnya.
Hingga kini, setiap satu tahun sekali, Ika kontrol ke dokter untuk mengetahui kondisi tubuhnya.
"Saya bersyukur bisa bertahan dari penyakit tersebut cukup lama. Maka dari itu, saya harus bermanfaat bagi orang lain," tuturnya.
Maka dari itu, Ika berpesan kepada seluruh masyarakat agar tidak menganggap remeh hal-hal yang tidak semestinya muncul.
Dia mengatakan perempuan harus mengenali payudaranya dengan melakukan periksa payudara sendiri (sadari). Pemeriksaan bisa dilakukan pada hari ke 7-10 setelah menstruasi dihitung saat haid hari pertama.
“Kalau misalnya ada sesuatu yang lain dari biasanya, seperti ada benjolan jangan didiagnosis sendiri. Segera pergi ke dokter," ucap Ika. (mcr23/jpnn)
‘Ketika merasakan ada benjolan pada payudara saya cuek lantaran tidak ada rasa sakit,’ kata Ika, pengidap kanker payudara.
Redaktur : Fahmi Azis
Reporter : Ardini Pramitha
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News