2 Orang Bunuh Diri di Jembatan Suramadu, Masyarakat Perlu Tahu Gejala Berikut

Senin, 13 September 2021 – 15:29 WIB
2 Orang Bunuh Diri di Jembatan Suramadu, Masyarakat Perlu Tahu Gejala Berikut - JPNN.com Jatim
Spesialis Kedokteran Jiwa RS Unair dr Brihastami Sawitri bicara soal kejadian bunuh diri di Jembatan Suramadu. Foto: Humas Unair

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Minggu lalu, ada dua orang nekat melakukan bunuh diri dengan cara yang hampir sama, yakni loncat dari Jembatan Suramadu, Surabaya, Jawa Timur.

Menanggapi fenomena tersebut, dr Brihastami Sawitri selaku spesialis kedokteran jiwa RS Unair Surabaya, memaparkan selama masa pandemi COVID-19, satu dari lima orang di Indonesia mengaku memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Pernyataan tersebut berdasarkan swaperiksa terhadap 4.010 orang yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

"Pikiran seperti itu, mayoritas timbul saat usia 19-29 tahun. Sebanyak 15 persen dari mereka memikirkannya setiap hari dan 20 persen lainnya beberapa hari dalam seminggu," kata Dokter Brihastami Sawitri, Senin (13/9).

Menurut catatan WHO pada 2019, satu dari 100 kematian di seluruh dunia akibat bunuh diri lebih dari 703.000 setiap tahunnya.

Jumlah tersebut didominasi warga yang berpendapatan menengah ke bawah.

"Laki-laki berisiko bunuh diri dua kali lebih tinggi daripada perempuan. Sedang penderita depresi 20 kali lipat melakukannya," ujar dia.

Dia menyebutkan ada sejumlah gejala seseorang ingin mengakhiri hidupnya, di antaranya, putus asa, marah tidak terkendali, bertindak impulsif, serta menjadi pendiam, dan mulai tertutup.

Minggu lalu, ada dua orang nekat melakukan bunuh diri dengan cara yang hampir sama, yakni loncat dari Jembatan Suramadu, Surabaya, Jawa Timur.