Milenial vs Kolonial

Jumat, 07 Mei 2021 – 05:15 WIB
Milenial vs Kolonial  - JPNN.com Jatim
Prabowo Subianto menyalami Anies Baswedan yang baru saja dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta di Istana Merdeka pada 16 Oktober 2017. Foto: Antara/Wahyu Putro A

Pendapat para eksper itulah yang didengar dan kemudian dirumuskan menjadi kebijakan. Soal utang luar negeri, liberalisasi pasar, dan swastanisasi perusahaan negara cukup diserahkan kepada expertise Sri Mulyani dan geng Mafia Berkeley.

Urusan deradikalisasi dan pemberantasan terorisme diserahkan kepada polisi sebagai ahlinya. Soal kebijakan pendidikan liberal yang tidak perlu memberi tempat agama pada kurikulum diserahkan kepada ahlinya.

Otoritarianisme baru adalah kekuasaan yang berdasarkan pada rezim, bukan perorangan. Demokrasi menjadi sebuah prosedur formal tanpa makna substansial.

Gabungan suara partai koalisi sekarang menguasai 70 persen suara parlemen, lebih dari cukup untuk menjadi stempel keputusan strategis apa saja.

Koalisi matoritas ini bisa menentukan apakah Jokowi akan menambah periode ketiga, ataukah pasangan Prabowo-Puan Maharani akan menjadi calon tunggal pada pilpres 2024.(*)

Anies dan Prabowo mewakili dua generasi berbeda. Anies bisa disebut merepresentasikan generasi baru anak-anak milenial, sedangkan Prabowo bisa anggap representa

Redaktur & Reporter : Antoni

Facebook JPNN.com Jatim Twitter JPNN.com Jatim Pinterest JPNN.com Jatim Linkedin JPNN.com Jatim Flipboard JPNN.com Jatim Line JPNN.com Jatim JPNN.com Jatim

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News