Rukyatul Hilal Ramadan 1446 Hijriah di Surabaya Tidak Terlihat

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Penanggung Jawab Observatorium Astronomi Sunan Ampel (OASA) Fakultas Syariah dan Hukum Uinsa Novi Sopwan memastikan rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadan 1446 Hijriah tidak terlihat.
Hujan deras sempat mengguyur kawasan setempat sejak pukul 16.30 WIB dan berhenti pukul 17.30 WIB. Pemantauan hilal dilanjutkan kembali pukul 17.50 WIB hingga menjelang Isya pukul 18.15 WIB.
Ketinggian hilal berada di 3,7 derajat dengan elongasi 5,8 derajat. Setelah azan berkumandang hilal belum memenuhi kriteria Imkanur Rukyat, yaitu 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
"Dengan tinggi 3,7 derajat itu kita punya waktu sekitar 12 sampai 14 menit dari maghrib sampai bulannya itu terbenam,” jelasnya.
Namun, setelah ditunggu hilalnya tak terlihat hingga bulannya sudah terbenam. Pihaknya akan mengirimkan hasil itu ke pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI.
"Secara digital langsung kami laporkan biasanya di grup, Jadi, dipastikan di Surabaya Raya ini cuacanya sama," bebernya.
Novi menyebut wilayah Aceh kemungkinan besar dapat melihat hilal karena wilayahnya lebih tinggi dan jaraknya lebih jauh dari matahari.
"Secara kriteria di sana itu sudah memenuhi untuk mengganti awal bulan secara perhitungan,m dan secara kemungkinan untuk melihat keberhasilan untuk melihat sabit bulannya," katanya.
Pemantauan hilal di Kota Surabaya berada di 3,7 derajat dengan elongasi 5,8 derajat.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News