Tradisi Unik di Banyuwangi: Barong Ider Bumi, Arak-Arakan Sakral Tolak Bala

"Kami tetap bersyukur karena hujan adalah anugerah dari yang Maha Kuasa," ujarnya.
Dia menambahkan Barong Ider Bumi merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya yang harus terus dijaga oleh generasi muda.
"Ini merupakan kewajiban kami untuk melestarikan budaya leluhur, ke depan kami berharap tradisi ini tetap dilestarikan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Osing tetap lestari," tuturnya.
Saat gamelan mulai dimainkan, barong diarak mengelilingi desa dengan iringan warga yang mengenakan pakaian adat khas Osing. Arak-arakan dimulai dari sisi timur Desa Kemiren menuju bagian barat, menempuh jarak sekitar dua kilometer.
Sepanjang perjalanan, tokoh adat melakukan sembur uthik-uthik, yaitu ritual menebarkan 999 koin logam yang dicampur dengan beras kuning dan aneka bunga sebagai simbol penolak bala.
Puncak acara ditandai dengan kenduri massal, di mana warga duduk bersama di sepanjang jalan desa untuk menikmati pecel pitik, kuliner khas Banyuwangi yang disajikan secara beramai-ramai.
Salah seorang wisatawan asal Surabaya Dian Eka Putri Nasution mengaku terkesan dengan atmosfer kekeluargaan dalam ritual ini.
"Yang paling saya suka adalah kendurinya, semua duduk bersama, makan bersama di jalanan desa. Rasanya hangat dan sangat membumi, ini pengalaman yang tidak bisa saya temukan di kota," katanya. (antara/mcr12/jpnn)
Ratusan warga dan wisatawan memadati Banyuwangi untuk menyaksikan Barong Ider Bumi, ritual adat sakral yang dipercaya menolak bala dan wabah penyakit.
Redaktur & Reporter : Arry Dwi Saputra
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News