Sindikat Scam Internasional di Surabaya Menyamar Polisi, Korban Diperas Ratusan Juta
Dari pengembangan kasus, polisi menemukan jaringan tersebut beroperasi di beberapa lokasi di Surabaya hingga Solo dan Bali. Polisi juga mengungkap dua warga Jepang yang awalnya diduga pelaku ternyata merupakan korban perdagangan orang.
Keduanya sempat dijanjikan pekerjaan di Thailand sebagai pelayan dan operator, namun justru dibawa ke Indonesia dan diduga akan dipaksa menjadi operator scam.
“Sebelum handphone korban disita, korban sempat mengirim lokasi keberadaannya kepada suaminya di Jepang. Dari situlah informasi diteruskan ke Konsulat Jepang dan akhirnya kami berhasil melakukan penyelamatan,” jelas Luthfie.
Saat ini kedua korban berada di rumah aman dalam kondisi sehat. Polisi menyebut jaringan ini telah beroperasi sejak 2025.
Salah satu rumah yang digunakan sebagai markas diketahui sudah disewa sejak September 2024 oleh seorang WNI berinisial E yang diduga menjadi koordinator di Surabaya.
Selain melakukan penyelidikan terhadap para tersangka, polisi juga berkoordinasi dengan Divisi Hubinter Polri, Interpol, Imigrasi, hingga aparat penegak hukum Jepang dan China untuk menelusuri kemungkinan korban lain di berbagai negara.
Dari hasil pemeriksaan sementara, korban jaringan ini diduga berasal dari Jepang, China, hingga Taiwan. Salah satu korban diketahui mengalami kerugian mencapai Rp834 juta.
“Penyidikan masih terus berkembang karena kami menduga jumlah korban maupun jaringan yang terlibat masih lebih besar,” katanya. (mcr23/jpnn)
Sindikat scam internasional di Surabaya menyamar jadi polisi untuk menipu korban luar negeri. Sebanyak 41 WNA ditangkap polisi
Redaktur : Arry Dwi Saputra
Reporter : Ardini Pramitha
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News