Cerita Santri Asal Surabaya Korban Perundungan Saat Mondok di Ponpes Lamongan
“Mata saya merah. Dipukul dicekik. Saya tidak mau kembali ke pondok. Harapan saya segera diusut pelaku ditangkap dan dikeluarkan,” pungkas FAR.
Sementara itu, Orang Tua FAR Winda Nurjanah, berharap ada langkah tegas dari pihak pondok pesantren, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Saya sama sekali tidak ada niat untuk membesarkan persoalan. Cuma saya hanya berurusan dengan pelaku saja,” ucap Winda.
Dia menyebut, anaknya menjadi korban bullying sejak September 2024, dari temannya yang dicurigai kerap mengintimidasi santri lain.
“Teman-teman anak saya banyak jadi korban bully. Anak saya dihina sampai tidak betah. Saat itu saya masih percaya sama pihak pondok,” tuturnya.
Namun seiring berjalannya waktu, perbuatan perundungan itu kian parah setelah mendapatkan laporan dari anaknya, untuk minta dijemput pulang.
“Ditelepon minta pulang sakit panas. Begitu tiba di lokasi saya kaget, anak saya mengeluh sakit di dada, luka lebam,” bebernya
Dirinya menyesalkan, anaknya mengalami tindakan perundungan selama menimba ilmu di pondok pesantren, yang notabene jauh dari pengawasan orang tua.
Alami trauma, santri asal Surabaya enggan kembali mondok di Ponpes Lamongan usai dapat perundungan
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News