Bukan Sekadar Pemandangan, Sorong Selatan Diperkenalkan sebagai Rumah bagi Masyarakat Adat
Namun, bagi masyarakat setempat, hutan bukan sekadar kawasan ekologis. Hutan menjadi tempat mencari pangan, membaca musim, sekaligus ruang untuk mewariskan cerita dari generasi ke generasi.
Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany mengatakan Sorong Selatan dianugerahi kekayaan alam luar biasa.
“KI bangga dan haru berdiri di tanah Sorong Selatan yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, menyimpan hutan rawa gambut tropis yang menjadi rumah bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa,” ujar Meizani.
Menurutnya, kekayaan ekologis tersebut memiliki arti lebih luas bagi masyarakat setempat.
“Namun bagi masyarakatnya, kekayaan ekologis ini lebih dari sekadar habitat biodiversitas, di sanalah mereka menggantungkan pangan, membaca tanda-tanda musim, serta merawat cerita leluhur,” imbuhnya.
Meizani mengatakan ekowisata yang didorong KI tidak hanya berorientasi pada keindahan lanskap. Masyarakat adat, kata dia, harus ditempatkan sebagai pemangku kearifan lokal sekaligus penjaga utama lingkungan.
“Berperan penting sebagai paru-paru ekologis, dari sinilah ekowisata yang kami dorong bermula. Masyarakat adat bukan sekadar pelengkap wisata, melainkan pemangku kearifan lokal sekaligus penjaga utama benteng hijau mereka. Program ini sengaja dirancang agar tidak berhenti pada keindahan lanskap,” jelasnya.
Editor in Chief National Geographic Indonesia Didi Kaspi Kasim menambahkan cara sebuah tempat diceritakan turut menentukan bagaimana tempat tersebut diperlakukan.
Ekowisata Sorong Selatan diperkenalkan di Jakarta melalui pameran foto, budaya, papeda, dan cerita masyarakat adat dari Klaogin, Konda, dan Bariat.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News