Peringati G30S/PKI, LDII Soroti Ancaman Disinformasi di Ruang Digital

Rabu, 30 September 2026 – 21:10 WIB
Peringati G30S/PKI, LDII Soroti Ancaman Disinformasi di Ruang Digital - JPNN.com Jatim
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya dan Korbid Hubungan Antar Lembaga Singgih Tri Sulistiyono mengingatkan bahwa ancaman terhadap ideologi negara kini telah bertransformasi. Foto: Dok. LDII Jatim

jatim.jpnn.com, SURABAYA - DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman ideologi di tengah perkembangan ruang digital. Peringatan tersebut disampaikan dalam memaknai peristiwa sejarah Gerakan 30 September (G30S/PKI).

Ketua DPP LDII Bidang Hubungan Antar Lembaga sekaligus Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Singgih Tri Sulistiyono mengatakan bentuk ancaman terhadap ideologi negara telah mengalami perubahan.

Menurut dia, jika pada masa lalu ancaman lebih mudah dikenali melalui gerakan fisik, pemberontakan, dan kekuatan bersenjata, kini infiltrasi ideologi dapat muncul melalui ruang digital.

"Apabila dahulu ancaman terhadap negara lebih mudah dikenali melalui gerakan fisik, saat ini ancaman menyusup secara halus melalui media sosial, propaganda digital, disinformasi, intoleransi, dan narasi yang mempertentangkan agama dengan negara. Karena itu, ketahanan ideologi umat harus diperkuat dengan literasi digital dan pemahaman agama yang moderat," ujar Singgih dalam keterangan tertulis di Surabaya, Rabu (30/9).

Dia menegaskan peringatan sejarah kelam tersebut tidak dimaksudkan untuk memelihara kebencian. Sebaliknya, sejarah diharapkan menjadi pengingat agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperkuat persatuan.

Dalam upaya meredam potensi gesekan horizontal, LDII disebut menjalin sinergi dengan pemerintah dan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Jaringan organisasi hingga tingkat desa juga didorong menjadi sarana deteksi dini terhadap persoalan sosial. Namun, Singgih menekankan langkah tersebut harus tetap mengedepankan mekanisme hukum dan koordinasi dengan lembaga berwenang.

"Deteksi dini tidak boleh berubah menjadi kecurigaan dan pelabelan secara sembarangan. Pendekatan persuasif, edukatif, dan kekeluargaan harus didahulukan agar masyarakat yang terpapar paham ekstrem dapat dirangkul kembali, bukan justru semakin terasing," katanya.

LDII mengingatkan ancaman ideologi kini dapat menyusup melalui ruang digital. Literasi digital dan pemahaman agama moderat dinilai penting.
Facebook JPNN.com Jatim Twitter JPNN.com Jatim Pinterest JPNN.com Jatim Linkedin JPNN.com Jatim Flipboard JPNN.com Jatim Line JPNN.com Jatim JPNN.com Jatim
JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News