Muktamar ke-35 NU, LDII Soroti Lima Tantangan Umat Islam
"Perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Yang harus dijaga adalah jangan sampai perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan sosial. Islam memiliki tradisi musyawarah dan adab dalam menyikapi perbedaan," katanya.
Menurut Dody, ormas-ormas Islam perlu memperkuat pendidikan kebangsaan, literasi politik, dan budaya dialog. Para ulama dan tokoh agama juga diharapkan dapat menjadi penyejuk ketika masyarakat menghadapi kontestasi politik.
Kedua, derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
LDII memandang transformasi digital, termasuk penggunaan artificial intelligence (AI), menghadirkan peluang besar bagi pendidikan dan dakwah. Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan berupa disinformasi, manipulasi informasi, ujaran kebencian, dan rendahnya literasi digital.
"Dakwah tidak boleh gagap teknologi. Tetapi penguasaan teknologi harus disertai akhlak. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana mencerdaskan justru digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, dan kebencian," ujar Dody.
Dia mendukung NU dan ormas Islam lainnya membangun ekosistem literasi digital yang melibatkan ulama, akademisi, pendidik, generasi muda, dan praktisi teknologi.
Menurut Dody, materi keislaman juga perlu dikembangkan dalam format digital yang mudah dipahami generasi muda tanpa kehilangan kedalaman keilmuannya.
Ketiga, ketimpangan ekonomi dan lemahnya kemandirian ekonomi umat.
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya menyampaikan lima tantangan strategis umat Islam yang diharapkan mendapat perhatian dalam Muktamar ke-35 NU.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News