Kemenkes: 30 Persen Remaja Indonesia Anemia, PBNU Perkuat Edukasi di Pesantren
"Setelah ini akan ada pelatihan untuk para asatidz dalam bentuk Training of Trainers. Lalu akan ada contoh implementasi di pondok pesantren. Mungkin di akhir tahun atau tahun depan kita juga mulai melatih santri menjadi pendidik sebaya," ujarnya.
Dia juga mendorong para pengasuh pesantren memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi kesehatan reproduksi, terutama dengan melibatkan kalangan muda seperti gus dan ning yang lebih akrab dengan platform digital.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Marlina Rully Wahyuningrum mengungkapkan tantangan kesehatan remaja saat ini makin kompleks.
Selain persoalan kesehatan mental dan sosial, angka anemia pada remaja juga masih tinggi.
Berdasarkan laporan agregat puskesmas terhadap 3,9 juta remaja putri kelas VII dan kelas X, sekitar 15 persen mengalami anemia.
Namun, data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah menunjukkan kondisi yang lebih memprihatinkan.
Dari sekitar satu juta siswa yang diperiksa, 30 persen terdiagnosis mengalami anemia, mulai kategori ringan hingga berat.
"Ini jumlah yang sangat banyak dan tidak ada bandara di dunia yang mampu menampungnya sekaligus. Ini isu yang harus kita tanggulangi bersama," ujar Rully.
PBNU melalui GKMNU memperkuat pendidikan kesehatan reproduksi di pesantren. Kemenkes mengungkap sekitar 30 persen remaja Indonesia mengalami anemia.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News