Walhi Jatim Soroti Kebakaran TPA Benowo, Sebut Jadi Alarm Buruknya Tata Kelola Sampah
Menurut Pradipta, metode tersebut berpotensi menghasilkan gas metana (CH4) yang mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko kebakaran.
Dia juga menyinggung kebakaran TPA Pakusari di Kabupaten Jember pada awal Juli 2026 sebagai peristiwa serupa yang menunjukkan masih lemahnya tata kelola persampahan.
"Dua peristiwa itu memperlihatkan kegagalan tata kelola sampah yang meningkatkan risiko bencana, terutama di tengah krisis iklim dan gelombang panas yang berpotensi memicu kebakaran di gunungan sampah," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Jatim Lucky Wahyu menilai pembangunan fasilitas berteknologi tinggi, termasuk PLTSa, belum cukup menyelesaikan persoalan sampah apabila tidak diikuti pengurangan timbulan sampah dari sumbernya.
"Kebakaran TPA Benowo harus menjadi alarm bahwa krisis persampahan tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun infrastruktur berteknologi tinggi. Akar persoalannya adalah tingginya produksi sampah dan lemahnya kebijakan pengurangan sampah dari sumber," ujar Lucky.
Karena itu, Walhi Jatim mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengevaluasi seluruh TPA yang masih menerapkan sistem open dumping sekaligus memperkuat kebijakan pengurangan sampah dari hulu hingga hilir.
Kebakaran melanda TPA Benowo, Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Pakal, Surabaya, pada Minggu (19/7) malam. Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya, api membakar sekitar 900 meter persegi area sampah di Blok 1B sebelum berhasil dipadamkan.
Delapan unit mobil pemadam, 15 tangki air milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta tujuh alat berat dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Walhi Jawa Timur menilai kebakaran TPA Benowo Surabaya menjadi alarm buruknya tata kelola sampah. Pemprov Jatim didesak mengevaluasi sistem open dumping.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News