BPOM & Ubaya Siapkan Unit Uji Klinis di Jatim, Industri Farmasi Tak Perlu ke Jakarta
Dia menyebut Indonesia memiliki sekitar 31 ribu jenis tanaman yang berpotensi menjadi sumber pengembangan produk farmasi berbasis riset.
“Kami berharap penelitian terhadap potensi biodiversitas ini terus dilakukan oleh kampus-kampus sehingga dapat menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Untuk mempercepat hilirisasi inovasi, BPOM tengah menyiapkan sejumlah terobosan regulasi, salah satunya skema conditional approval atau persetujuan bersyarat.
Melalui skema tersebut, produk inovatif yang sangat dibutuhkan masyarakat dapat memperoleh akses lebih cepat setelah memenuhi aspek keamanan dan menunjukkan efektivitas pada tahapan tertentu, sambil tetap menjalani pengumpulan data klinis lanjutan.
Selain itu, BPOM juga telah memangkas waktu evaluasi perizinan produk dari sekitar 300 hari kerja menjadi 210 hari kerja.
Sementara itu, Rektor Universitas Surabaya Benny Lianto mengungkapkan Jawa Timur masih membutuhkan fasilitas uji klinis untuk mendukung pengembangan obat baru.
Selama ini, industri farmasi di Jawa Timur masih harus melakukan pengujian klinis ke Jawa Barat maupun Jakarta karena belum tersedianya fasilitas yang memadai.
“Yang kurang itu adalah sebuah unit yang bisa melakukan uji klinis terhadap pembuatan obat baru. Selama ini industri farmasi di Jawa Timur ngujinya ke Jawa Barat atau ke DKI Jakarta,” kata Benny.
BPOM dan Ubaya memperkuat kolaborasi hilirisasi riset serta mendorong pembentukan unit uji klinis di Jawa Timur untuk mendukung industri farmasi.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News