Tren Padel Picu Lonjakan Cedera, Physiorehab Tambah Layanan di Surabaya Barat
“Nomor satu itu sakit pinggang, baik yang operasi maupun tidak operasi. Nomor dua masalah lutut. Kalau operasi lutut, proses pemulihannya bisa delapan sampai 12 bulan dan itu ditangani fisioterapi,” jelasnya.
Dia mengungkapkan tren olahraga padel menjadi penyumbang terbesar kasus cedera olahraga dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sekitar 50 persen kasus operasi akibat cedera olahraga yang masuk ke kliniknya kini didominasi pemain padel.
“Sejak padel naik, kasus operasi didominasi cedera dari padel. Ada yang mengalami tenis elbow, golfer elbow, sampai putus ligamen ankle dan lutut yang akhirnya harus operasi,” ungkap Simon.
Menurutnya, cedera padel banyak terjadi pada kelompok usia produktif 20 hingga 40 tahun. Risiko meningkat pada masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki kebiasaan berolahraga namun langsung bermain padel dengan intensitas tinggi.
“Kalau sebelumnya sudah bermain tenis atau badminton biasanya lebih mudah beradaptasi, tetapi yang tidak pernah olahraga lalu langsung bermain padel dua sampai tiga kali seminggu, risiko cederanya jauh lebih tinggi,” katanya.
Selain padel, olahraga lari juga menjadi penyumbang kasus cedera yang cukup sering ditemui. Namun, mayoritas cedera pada pelari tergolong ringan, seperti nyeri di area lutut bagian dalam dan luar akibat kurangnya latihan penguatan otot.
Meski demikian, Simon menegaskan olahraga tetap penting bagi kesehatan. Dia mengimbau masyarakat untuk memahami kapasitas tubuh masing-masing dan melakukan persiapan fisik yang cukup sebelum mencoba olahraga baru.
“Main padel boleh, olahraga itu sehat, tetapi harus tahu kapasitas tubuh dan melakukan adaptasi yang benar agar tidak berujung cedera,” pungkasnya. (mcr12/jpnn)
Tren olahraga padel memicu peningkatan kasus cedera yang ditangani Physiorehab. Klinik fisioterapi ini membuka cabang baru di Surabaya Barat.
Redaktur & Reporter : Arry Dwi Saputra
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News