Psikolog Untag Surabaya Ungkap Fenomena Mahasiswa Gen Z Cemas dan Gemar Ngopi

Jumat, 23 Januari 2026 – 14:09 WIB
Psikolog Untag Surabaya Ungkap Fenomena Mahasiswa Gen Z Cemas dan Gemar Ngopi - JPNN.com Jatim
Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Dr Diah Sofiah, S.Psi., M.Si., Psikolog. Foto: Humas Untag Surabaya

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Fenomena kecemasan yang makin sering dialami mahasiswa dan Gen Z belakangan ini mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Dr Diah Sofiah, S.Psi., M.Si., Psikolog, menjelaskan kecemasan bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan respons psikologis yang lebih kompleks dan sering kali tidak disadari.

Menurut Dr Diah, perbedaan utama antara rasa takut dan kecemasan terletak pada kejelasan objeknya. Rasa takut memiliki sumber yang konkret, sementara kecemasan muncul terhadap hal-hal yang tidak pasti dan abstrak.

“Kecemasan sebenarnya adalah bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Justru karena tidak jelas, respons emosionalnya menjadi lebih berat,” ujar Dr Diah, Senin (19/1).

Dalam psikologi, kecemasan dibedakan menjadi state anxiety dan trait anxiety. State anxiety bersifat situasional dan sementara, misalnya saat menghadapi ujian atau presentasi, sedangkan trait anxiety merupakan kecenderungan kepribadian, di mana seseorang lebih mudah merasa terancam dan cemas dalam berbagai situasi.

Dr Diah menjelaskan kecemasan melibatkan tiga komponen utama, yakni kognitif, fisiologis, dan perilaku. Secara kognitif, individu dipenuhi pikiran negatif, kekhawatiran berlebihan, dan distorsi kognitif seperti catastrophizing atau membayangkan skenario terburuk. Secara fisiologis, kecemasan memicu jantung berdebar, keringat dingin, dan ketegangan otot, sedangkan dari sisi perilaku, muncul kecenderungan menghindari situasi yang dianggap menekan.

Meski kerap dipandang negatif, kecemasan sejatinya memiliki fungsi adaptif. Berdasarkan hukum Yerkes-Dodson, tingkat kecemasan yang moderat justru dapat meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Namun jika terlalu tinggi, kecemasan justru bisa melumpuhkan performa.

“Sedikit cemas itu membuat kita siap. Tapi kalau terlalu tinggi, justru menghambat,” jelasnya.

Psikolog Untag Surabaya menjelaskan penyebab kecemasan mahasiswa dan kaitannya dengan budaya ngopi.
Facebook JPNN.com Jatim Twitter JPNN.com Jatim Pinterest JPNN.com Jatim Linkedin JPNN.com Jatim Flipboard JPNN.com Jatim Line JPNN.com Jatim JPNN.com Jatim
JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News