Berkunjung ke Surabaya, Hasto Bahas Kuliner Lokal dan Berpikir Kritis ala Bung Karno
“Para pendiri bangsa membangun Indonesia dari pertanyaan-pertanyaan kritis. Kenapa kita terjajah? Bagaimana melawannya? Itu tradisi berpikir yang harus terus dirawat,” ucapnya.
Hasto menekankan berpikir kritis, dialektis, dan kontemplatif merupakan benteng utama menghadapi kecenderungan otoritarianisme yang kini muncul di berbagai negara. Kesadaran kritis, menurutnya, berakar pada nilai kemanusiaan (humanity) dan keadilan sosial (social justice).
“Manusia pada dasarnya menolak penindasan. Bung Karno pernah mengibaratkan, cacing saja kalau diinjak akan melawan, apalagi manusia dan bangsa,” katanya.
Dia menambahkan partai politik memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran rakyat melalui tradisi intelektual, bukan sekadar mengejar kekuasaan. Ide, imajinasi, dan cita-cita harus menjadi jiwa perjuangan partai dan bangsa.
“Kalau bangsa kehilangan ide tentang masa depan, kita mati sebagai bangsa. Partai dan negara harus dipimpin oleh ide dan imajinasi,” ujar Hasto.
Ke depan, PDI Perjuangan akan mendorong kegiatan public lecture keliling yang digagas anak-anak muda partai setiap tanggal 17. Sejumlah tokoh nasional akan dilibatkan, sedangkan inisiatif dan ekspresi tetap diberikan seluas-luasnya kepada generasi muda.
“Tantangan demokrasi ke depan berat. Bentengnya satu, berpikir kritis. Itu yang terus kami dorong kepada mahasiswa dan pemuda,” kata Hasto. (mcr12/jpnn)
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengajak generasi muda mencintai kuliner lokal dan membangun tradisi berpikir kritis ala Bung Karno.
Redaktur & Reporter : Arry Dwi Saputra
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News