968 Kasus HIV Tercatat Selama Tahun 2025 di Surabaya, Tetapi
“Selain itu, Dinkes membangun kerja sama yang kuat dengan kelompok-kelompok yang peduli HIV, seperti Aliansi Surabaya Peduli AIDS (ASPA) dan kelompok pendamping sebaya,” jelasnya.
Nanik menekankan bahwa Puskesmas di Surabaya kini tidak hanya sebagai tempat tes, tetapi menjadi fasilitas utama bagi Orang dengan HIV (ODHIV).
Puskesmas melayani mulai dari deteksi awal, perawatan, pengobatan, hingga pemberian obat Antiretroviral (ARV) secara rutin.
Layanan tes HIV ini sudah terintegrasi dengan pemeriksaan kesehatan lain, termasuk Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), tes TBC, serta pemeriksaan wajib untuk Calon Pengantin (Catin) dan Ibu Hamil (Bumil).
Edukasi juga menjangkau kelompok calon pengantin dan ibu hamil agar mereka tahu bahaya penularan HIV dan pentingnya tes serta pengobatan jika diperlukan. Kader kesehatan dan Karang Taruna juga dibekali pengetahuan tentang bahaya HIV dan narkoba.
“Upaya pencegahan juga diperkuat melalui program edukasi dan penyuluhan kepada berbagai kalangan. Kami aktif melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah dari tingkat SMP hingga SMA, memberikan informasi penting tentang HIV, bahaya pergaulan bebas, dan kaitannya dengan penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Nanik menyebutkan, penanggulangan AIDS di Surabaya didukung oleh kolaborasi lintas sektor yang kuat, termasuk kerja sama Dinkes dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk penyebaran informasi pencegahan.
“Selain itu, kolaborasi dengan LSM dan komunitas sangat penting untuk pendampingan ODHIV dan penjangkauan kelompok berisiko,” pungkasnya. (mcr23/jpnn)
Dinkes Surabaya menyebut 50 persen kasus HIV bukan berasal dari warga Kota Pahlawan.
Redaktur : Arry Dwi Saputra
Reporter : Ardini Pramitha
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News