Kisah Korban Selamat Ambruknya Ponpes Al Khoziny, Rakaat Kedua Ada Gemuruh Lalu Gelap
jatim.jpnn.com, SIDOARJO - Salah satu santri atau korban selamat dari tragedi Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo menceritakan detik-detik sebelum bangunan itu ambruk, Senin (29/9).
Remaja yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP itu mengungkapkan saat kejadian sekitar pukul 15.00 WIB, dirinya sedang salat berjemaah bersama puluhan santri lain.
“Baru rakaat kedua, dengarnya ya gemuruh. Pertama ada semacam batu jatuh,” kata Ali saat di ruang Mawar Kuning RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Rabu (1/10).
Dia mengaku sempat tetap fokus melanjutkan salat, hingga tiba-tiba terasa getaran mirip gempa. Setelah itu, kesadarannya hilang.
“Habis itu enggak ingat lagi, posisi sudah enggak sadar,” ujarnya.
Ali menuturkan sebelum kejadian dia berada di saf tengah sebelah kanan dari imam. Kini, dia masih menjalani perawatan akibat gegar otak ringan dan pembengkakan di tulang ekor.
“Sekarang rasanya pusing, kalau jalan sakit dari punggung sampai tulang ekor,” ungkapnya.
Berdasarkan data RSUD RT Notopuro, hingga Rabu (1/10), tercatat ada 44 korban runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny yang ditangani di rumah sakit tersebut.
Kesaksian M Ali Zainal Abidin, santri selamat dari ambruknya musala Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News