Cak Imin Ungkap Alasan Prioritaskan SPPG, Anak Pesantren Masih Kalah Daya Saing
Cak Imin menceritakan latar belakang dilaksanakannya program SPPG ini. Menurutnya, para santri dan lulusan pesantren masih kalah daya saing dibanding lulusan sekolah umum lain.
“Setelah saya pelajari ternyata pesantren juga punya daya tahan yang kuat. Punya kemampuan untuk melahirkan anak-anak yang kuat dan kokoh berintegritas. Satu saja yang kurang,” kata dia.
“Anak-anak pesantren itu, moralnya bagus, integritasnya bagus. Satu saja yang kurang, kalah daya saingnya. Kalah bersaing,” imbuhnya.
Dia mengungkapkan hal itu diketahuinya berdasarkan hasil survei dan analisis psikologi, analisis ekonomi dan analisis sumber rekrutmen tenaga kerja.
“Pesantren adalah paling rendah tingkat daya saingnya. Mungkin harus ada yang sadar atau tidak sadar mengevaluasi kenapa daya saingnya turun,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal itu, pemerintah pun merasa perlu melakukan langkah terobosan, yakni melalui MBG. Hal itu diyakini mampu mendongkrak kualitas SDM melalui pemberian nutrisi dan makanan yang bergizi.
“Nah, Pak Prabowo melihat ini enggak bisa bussines as usual, tidak bisa cara biasa-biasa saja. Harus ada terobosan-terobosan, harus ada langkah-langkah yang lebih konkret dirasakan. Makanya beliau ngotot yang namanya MBG,” ucapnya.
Program MBG pun, kata Cak Imin, pada awalnya tak banyak melibatkan pesantren. Dia mengakui program itu juga bukan merupakan wewenang kementeriannya.
Inilah alasan Menko Pemberdayaan Masyarakat RI Muhaimin Iskandar memprioritaskan SPPG Pesantren.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News